Dalam semesta Record of Ragnarok, setiap duel membawa makna yang lebih dalam dari sekadar pertempuran. Bab 100–101 memperkenalkan duel sniper legendaris: Simo Häyhä melawan Loki, sang dewa penipu. Tidak seperti pertarungan sebelumnya yang berlangsung frontal, kali ini medan pertempuran berubah menjadi arena sunyi penuh taktik dan kekuatan supernatural jarak jauh.
Aturan Dilanggar: Loki Membawa Klon Para Dewa

Turnamen Ragnarok sejatinya adalah duel suci satu lawan satu. Namun Loki, dengan tipu dayanya, menghadirkan klon tiga dewa besar: Thor, Odin, dan Heracles. Aksi ini memancing kontroversi besar, bahkan Heimdall sang wasit sempat ragu untuk melanjutkan ronde. Walau banyak pihak menganggapnya tidak adil, Loki berdalih bahwa pemanggilan tersebut masih dalam batas kekuatannya.
Strategi Kloning Massal: Loki Gandakan Serangan
Merasa gagal melacak Simo, Loki meningkatkan intensitas serangannya. Dengan cincin sihir Heimskringla, ia memanggil lebih banyak klon dan menutupi arena dengan kabut hitam. Munculnya banyak klon menimbulkan ilusi bahwa Loki seperti ninja yang mengandalkan kecepatan dan jumlah. Tapi ternyata, itu adalah taktik licik perang psikologis.
Loki Mengungkap Dua Cincin Mautnya

Melalui megaphone, Loki mengungkap kekuatannya:
Ring of Jester (Heimskringla) untuk menduplikasi objek.
Ring of Proliferation (Andvaranaut) untuk memperbanyak jumlah klon tanpa batas.
Meski demikian, Loki tak mengungkap kelemahan fatalnya—bahwa kekuatan tiap klon melemah saat jumlahnya membengkak. Bahkan, ia bisa memusatkan kekuatan pada satu klon jika diperlukan. Trik psikologis ini dirancang agar lawan kehilangan fokus dan ketakutan.
Balasan Dingin Simo: Peluru Berpecah yang Mematikan
Namun Simo bukan manusia biasa. Ia menjawab ejekan Loki hanya dengan satu peluru. Tapi peluru itu terpecah menjadi hujan proyektil kecil, layaknya shotgun, dan menghantam semua klon sekaligus. Bahkan klon yang diperkuat pun tumbang. Satu serangan yang membuat para penonton, termasuk Buddha, tak bisa menyembunyikan rasa kagum mereka.
Rahasia Peluru Anti-Dewa Simo: Volund yang Sadis
Brunhilde pun membuka tabir kekuatan Simo: senapan Volund bernama Reaper’s Contract. Peluru yang digunakan ternyata dibuat dari organ tubuh non-vital Simo sendiri, seperti ginjal. Ya, untuk setiap tembakan, Simo mengorbankan sebagian tubuhnya. Hal ini membuat para dewa seperti Zeus dan Buddha terdiam dalam hormat.
Volund sebagai Bentuk Penebusan
Meski mengerikan, Reaper’s Contract bukan hanya alat perang. Bagi Simo, itu adalah bentuk penebusan atas masa lalunya sebagai penembak jitu dalam perang. Setiap rasa sakit yang ia alami adalah harga atas nyawa-nyawa yang pernah ia ambil. Ini menjadikan Simo bukan hanya petarung, tapi juga manusia penuh luka dan rasa bersalah.
Pertarungan antara Simo Häyhä dan Loki bukan sekadar duel kekuatan, tetapi pertarungan nilai, strategi, dan penebusan. Simo bukan hanya sniper mematikan, namun juga simbol ketenangan dan pengorbanan. Sementara Loki, meski penuh tipu daya, justru memperlihatkan sisi licik dewa yang tak segan mencurangi sistem.
Pertarungan ini menjadi salah satu momen paling epik di Record of Ragnarok, yang memperlihatkan bahwa kekuatan sejati datang dari harga yang dibayar dan prinsip yang dijunjung.


Comment